Kontinuitas Misi Trilogi Gold, Glory dan Gospel

Berakhirnya perang salib tidak berarti dendam Barat terhadap Islam dan umatnya berakhir begitu saja. Dendam kesumat yang berkepanjangan itu akhirnya dapat mereka lampiaskan ketika Barat melalui Columbus dapat mengetahui dan membuka pintu jalur perjalanan dan perdagangan ke dunia Timur dan dunia Islam.

Foto-0061

Rp. 210.000 -> Rp. 190.000 (hemat Rp. 20.000) | order: 085 728 492 674

Dengan dalih mencari pasokan rempah-rempah, mereka akhirnya melakukan penjajahan terhadap dunia Timur pada umumnya dan Islam pada khususnya. Selain membawa panji-panji gold (emas) dan glory (kebanggaan), merekapun mengibarakan panji gospel (penyebaran Injil), dengan tujuan utama menyebarakan berita Injil dan sekaligus mengkristenkan dunia Islam serta membenamkan Islam atau minimal memojokkannya ke sudut-sudut gelap ruang kehidupan. Bagi dunia Timur dan Islam, misi ini bukan membawa glory, tetapi justru gory (berlumuran darah).

The Green Menace

Persepsi ‘ancaman Islam’, yang membuat Barat memusuhi dan memerangi Islam dan kaum Muslim, sebenarnya bukan barang baru. Khususnya sejak terjadinya Perang Salib, Barat yang notabene kaum zionis, salibis dan sekaularis, melihat betapa Islam merupakan kekuatan dahsyat yang dapat menguasai dunia sekaligus mengancam kepentingan mereka, sebagaimana telah dibuktikan sejak masa al-khulafau-r-rasyidun hingga Khilafah Turki Utsmani. Karena itulah, Barat –yang kini di bawah komando Amerika Serikat– selalu merancang dan mengupayakan berbagai terobosan untuk melemahkan Islam dan para pembelanya. “Adalah kesalahan fatal bila menyangka semangat Perang Salib telah punah,” kata Murad W. Hoffman, seorang pemikir Muslim asal Jerman.

Pada dekade 1980-an, saat jihad di Afghanistan bergolak, bekas presiden Amerika Serikat, Richard Nixon, berkunjung ke ke negeri para mullah itu. Dia menangkap sinyalemen-sinyalemen bakal kekalahan Uni Soviet. Buru-buru dia kembali ke negaranya dan menggelar konferensi pers. Para wartawan bertanya kepadanya, “What’s the problem?” Dia menjawab, “The real problem is Islam.”

Mereka menganggap Islam sebagai the next enemy, rival berikutnya yang akan mereka tantang sebagai pengganti Uni Soviet. Fakta menjawab, kini Islam dicitrakan sebagai The Green Menace (Bahaya Hijau), usai tumbangnya The Red Menace (Bahaya Merah); Uni Soviet.

Pakar hubungan internasional Fred Halliday menuturkan bahwa untuk mempertahankan dominasi dan hegemoninya di dunia –setelah kompetitornya dalam perang dingin (the Cold War), Negeri Beruang Merah, ambruk–, Barat tetap membutuhkan “musuh”. Maka, yang menjadi bidikan kemudian adalah Islam.

John L. Esposito, seorang pengamat politik dan dunia Islam, menyebutkan bahwa bagi Barat, yang telah biasa beradaptasi dengan visi global dan kebijaksanaan asing yang didasarkan pada rivalitas antar negara adidaya untuk mendapatkan pengaruh global (whole-scale hegemony), terlalu menggiurkan untuk tidak mengidentifikasi ancaman ideologis global lainnya dalam mengisi “kekosongan ancaman” yang timbul karena kolapsnya komunisme.

Menurut Samuel P. Huntington, seorang futuris yang tenar lewat buku Clash of Civilizations and the Remaking of World Order, konflik antara Islam dan Barat adalah konflik yang sebenarnya, bukan “konflik biasa”. Konflik antara Demokrasi Liberal (Barat) dan Marxis-Leninis di abad-20 justru dinilainya bukan merupakan konflik yang sebenarnya. Konflik kedua ideologi itu cuma fenomena sejarah yang ‘sesaat’ (fleeting) dan di permukaan (superficial) saja.

Huntington rajin mengkritiki orang-orang Barat –termasuk Bill Clinton tidak luput dari kritiknya ketika masih menjabat presiden– yang menyatakan bahwa Barat tidak memiliki persoalan dengan Islam, kecuali dengan Islam ekstrim. Selama 14 abad, papar Huntington, sejarah menunjukkan hal yang sebaliknya; hubungan antara Islam dan Kristen (sebagai wakil Barat) lebih sering ribut. Bahkan, katanya, di akhir abad ke-20 intensitas konflik antara kedua kubu semakin meningkat. Dalam bahasa Huntington, “The relation between Islam and Christianity, both Ortodoks and Western, have often been stormy.”

Faktor Pemantik

Dia memprediksikan, ada lima faktor pemicu memanasnya konfrontasi antara Barat dan Islam di akhir abad ke-20. Pertama, pertumbuhan penduduk Muslim yang cepat telah memunculkan pengangguran dalam jumah besar, sehingga menimbulkan ketidakpuasan di kalangan kaum muda muslim. Kedua, kebangkitan Islam (Islamic resurgence) telah memberikan keyakinan baru kepada kaum Muslim akan keistimewaan dan ketinggian nilai dan peradaban Islam, dibanding nilai dan peradaban Barat. Ketiga, secara bersamaan, Barat berusaha mengglobalkan nilai dan institusinya untuk menjaga superioritas militer dan ekonominya, serta turut campur dalam konflik di dunia Islam. Hal ini telah memantik kemarahan di kalangan kaum Muslim. Keempat, runtuhnya komunisme telah menggeser musuh bersama antara Islam dan Barat. Lalu masing-masing merasa sebagai ancaman utama bagi yang lain. Kelima, meningkatnya interaksi antara muslim dan orang Barat telah mendorong timbulnya perasaan baru di masing-masing pihak akan identitas mereka sendiri, dan bahwa mereka berbeda dengan yang lain. Bahkan, tambah Huntington, dalam kedua komunitas –Islam dan Barat– sikap toleran terhadap yang lain telah merosot drastis mulai era 1980-an dan 1990-an.

Untuk penilaian Huntington ini, setiap orang boleh setuju boleh tidak. Namun yang jelas bagi kaum Muslim sendiri, landasan standar teoretisnya sudah dikukuhkan oleh al-Qur`an. Bahwa tipologi pihak-pihak non-Muslim  ‘sejati’ itu, “ Nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi.” (Ali ‘Imran [3]: 118)

Di setiap rentang masa, selagi masih ada Muslim dan non-Muslim, potensi terjadinya benturan-benturan akan terus langgeng. Sebab, sifat dasar mereka terhadap kaum Muslim adalah, “Mereka tiada putus-putusnya memerangi kamu sebelum mereka berhasil mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), jika saja  mereka bisa.” (al-Baqarah [2]: 217)

Amerika hari ini, sebagai lokomotif dunia Barat, gencar melakukan ekspansi ke negeri-negeri kaum Muslim. Baik melalui distribusi produk pemikiran, budaya,  maupun teknologi. Bahkan sampai pada eksploitasi sumber daya alam negara ‘obyek’ dan pamer aksi militer. Imperialisme modern ini tidak lain adalah satu mata rantai dari ‘misi kotor’ (odious mission) gold, glory dan gospel.*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s